Belajar dari Kisah Hajar Ummu Isma’il (Bag. 2)

12 02 2007

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari artikel yang berjudul Belajar dari Kisah Hajar Ummu Isma’il (Bag. 1). Pada kesempatan ini kita mencoba menyimpulkan beberapa HIKMAH dan PELAJARAN yang bisa kita ambil dari Kisah Hajar Ummu Isma’il.Hikmah pertama adalah niat dan perbuatan yang baik dari Sarah untuk menyuruh Nabi Ibrahim menikah lagi dengan Hajar dengan harapan agar mendapatkan keturunan yang shalih sehingga bisa meneruskan risalah yang diemban oleh ayahandanya yakni untuk hanya beribadah dengan bertauhid kepada Allah subhanahu wa ta’alla

Hikmah kedua adalah memberitahukan kepada kita resep bagi orang yang belum mempunyai keturunan salah satunya agar menikah lagi, tentunya dengan syarat adil yang harus dipenuhi, biasanya akan mendapatkan keturunan dari istri yang kedua dan sekaligus dari istri yang pertama sebagaimana banyak kejadian nyata yang bisa dijadikan contoh.

Hikmah ketiga adalah waspadalah terhadap penyakit hasad, penyakit hati ini sangat buruk akibat yang ditimbulkannya, ia bisa menghapus pahala dari amalan-amalan kita sebagaimana api yang melalap kayu bakar. Penyakit hati ini bisa menimpa seorang yang shalih dan yang dekat dengan Allah, terlebih-lebih lagi selainnya.

Hikmah keempat adalah Nabi Ibrahim mengabulkan permintaan dari istri pertamanya Sarah, demi menghindari madharat yang lebih besar dan membawa Hajar beserta putranya yang sangat beliau idam-idamkan sejak lama, dan membawa keduanya ke tempat yang Allah perintahkan.

Hikmah kelima adalah ketinggian dan kekuatan iman yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim, kita dapat merasakannya, Nabi Ibrahim sangat mengidam-idamkan seorang putra, begitu beliau memperoleh putra beliau harus mengasingkan putra sekaligus istri beliau ke suatu tempat yang tidak terdapat tanda-tanda kehidupan sebagaimana Allah ‘azza wa jalla perintahkan.

Hikmah keenam adalah ketinggian dan kekuatan iman yang dimiliki oleh Hajar, yang ridha atas ketentuan yang terjadi pada dirinya serta bertawakal penuh kepada Allah ‘azza wa jalla.

Hikmah ketujuh adalah Allah ‘azza wa jalla akan memberikan jalan keluar serta rezeki dari arah yang tiada terduga bagi siapa saja yang bertaqwa dan bertawakal kepada-Nya.

(Dikutip dari: Sirah Nabawiyyah ‘Rahiqul Makhtum’ tulisan Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri dan sumber-sumber lainnya)

Sumber: www.mediamuslim.info


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: