Kajian Akhlaq: Wahai Jiwa & Hati Ini “Bersabarlah”

5 07 2007

Sulit tidaknya sabar itu sangat tergantung kepada sejauh mana kekuatan dorongan untuk bertindak dan kemudahannya bagi seorang hamba. Jika kedua hal tersebut berkumpul pada sebuah tindakan, maka bersabar darinya adalah sesuatu amal yang sulit bagi orang yang bersabar. Sebaliknya jika kedua unsur tersebut tidak ada keduanya, maka bersabar darinya menjadi sangat mudah. Jika salah satunya tidak ada maka bersabar menjadi mudah disatu sisi dan menjadi sulit disisi lain.
Maka barangsiapa tidak mempunyai dorongan untuk membunuh, mencuri, meminum minuman keras, dan berbuat jahat, maka sabar darinya adalah sesuatu yang amat mudah dan gampang baginya. Sedang bagi orang yang mempunyai dorongan yang kuat terhadap itu semua dan mendapatkan kemudahan untuk melakukannya maka, maka sabar darinya adalah sesuatu yang amat sulit baginya. Oleh karena itu, kesabaran seorang penguasa dari dzalim, kesabaran seorang pemuda dari berbuat zina, dan kesabaran orang kaya dari mengkonsumsi makanan lezat dan syahwat mempunyai kedudukan yang tinggi dihadapan Allah Ta’ala.

Dalam Al-Musnad dan lain-lainya disebutkan dari nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang bersabda: Tuhanku merasa kagum terhadap seorang pemuda yang tiddak ada penyimpangan padanya.(Diriwayatkan Ahmad)

Oleh karena itu, kelompok-kelompok yang disebutkan dalam hadist bahwa Allah melindungi mereka di bawah naungan Arasy-nya itu disebabkan karena kesempurnaan kesabaran mereka dan kesulitannya, sesungguhnya kesabaran penguasa ialah adil dalam pendistribusian kekayaan negara, keputusannya, keridhaanya, dan emosinya. Kesabaran seorang pemuda ilaha ibdah kepada Allah dan melawan hawa nafsunya. Kesabaran seorang ialah dengan ketekunannya di masjid. Kesabaran orang yang bersedekah terletak dalam merahasiakan sedekahnya dari orang lain. Kesabaran orang yang diajak berbuat mesum padahal orang yang mengajak lebih tinggi jabatanya, dan kedudukannya.

Oleh karena itu pula,hukuman bagi orang yang lanjut usia yang berzina, penguasa yang banyak berbohong, dan orang-orang miskin yang sombongmerupakan hukum yang sangat kera, karena sesunguhnya sabar itu amat mudah bagi mereka. Maka ketidak mampuan mereka bersabar daripadanya padahal itu mudah bagi mereka adalah pertanda pembangkangan mereka terhadap Allah dan kesombongan mereka terhadap-Nya.

Sabar dari maksiat lisan, dan kemaluan termasuk jenis sabar yang paling sulit, karena kuatnya dorongan kepada keduanya dan adanya kemudahan kepadanya. Sesungguhnya maksiat lisan adalah buah manusia seperti menagdu domba, menggunjing, berbohong, riya’, dll. Maka rasulullah bersabda dalam sebuah hadist:
Jagalah lisanmu berkataApakah kita dihukum karena apa yang kita katakan?Rasulullah Shallallhu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,Adakah yang menjungkir manusia Ta’ala neraka kalau tidak karena lisan mereka (Diriwayatkan Ta’alabnu Majah, At-Tirmidzi)

Apalagi jika kemaksiatan lisan sudah menjadi kebiasaan bagi seseorang, maka bersabar darinya menjadi sangat sulit baginya.karena itu anda jumpai orang yang rajin melakukan qiyamul lail, berpuasa di siang hari , dan menjauhkan dirinya dari bersandar kepada bantal kendatisesaat saja, namun lisannya menggunjing , mengadu domba dan melecehkan kehormatan orang lain.

Terkadang ia memandang hina orang shalih, ulama dan mengatakan tentang Allah apa yang ia tidak ketahui.
Banyak sekali orang-orang yang Anda lihat menjauhkan dirinya dari hal-hal kecil yang diharamkan, setetes minuman keras, kotoran sebesar lubang jarum, namun ia tidak sungkan-sungkan berbuat zina yang diharamkan.

Dikisahkan bahwa seorang melakukan kencan dengan wanita, kemudian ketika ia hendak berzina dengan wanita tersebut ia berkata:Hai tutuplah wajahmu, karena melihat wajah orang lain adalah haram!.

Seseorang bertanya kepada Abdullah bin Umar tentang hukum darah Nyamuk. Abdullah bin Umar berkata:lihatlah orang-orang ini, mereka bertanya kepadaku tentang hukum darah nyamuk, padahal mereka telah membunuh anak dari putri ?. Seorang rekan berkata kepdaku,aku sedang ihram, kemudian datanglah kepsdaku orang-orang Arab Badui yang terkenal suka membunuh orang dan merampas harta orang lain. Mereka bertanya kepadaku hukum orang yang sedang ihram membunuh kutu,kemudian aku katakan kepada mereka ‘Aneh, kaum ini! Mereka menahan diri membunuh jiwa yang diharamkan Allah kemudian bertanya kepadaku tentang hukum orang yang sedang ihram membunuh kutu.
Maksud dari semua ini ialah bahwa perbedaan kesulitan sabar dalam berbagai jenis maksiat adalah sesuai dengan perbedaan kuat tidaknya dorongan kepada maksiat tersebut.

Disebutkan dari Ali bahwa ia berkata, Sabar itu ada tiga; sabar terhadap musibah, sabar sabar terhadap ketaantan, sabar terhadap maksiat. Barangsiapa bersabar terhadap musibah hingga ia berhasil menolaknya dengan sebaik mungkin maka Allah menulis baginya enam ratus derajat. Dan barangsiapa bersabar dari maksiat karena takut kepada dan mengaharap apa yang ada di sisi-Nya maka Allah menulis baginya sembilan ratus derajat.

Maimun bin Mahram berkata: sabar itu ada dua macam; sabar terhadap musibah adalah baik dan sabar yang lebih baik lagi ialah sabar dari maksiat.
Al Fudhail berkata mengenai firman Allah Ta’alaa, “Salam sejahtera atas kalian karean kesabaran kalian” (Ar-Ra’du:24). Mereka bersabar terhadap apa yang diperintahkan kepada meraka dan bersabar dari apa yang dilarang terhadap mereka. Seperti Al-Fudhail memasukkan sabar terhadap musibah kedalam hal yang diperintahkan, wallahu a’lam.

Sesungguh seseorang itu berada diantara perintah yang wajib ia kerjakan, larangan yang wajib ia jauhi dan tinggalkan, takdir yang terjadi padanya, nikmat yang terjadi maka wajib ia bersyukur atas pemberianny. Jika semua hal diatas tidak pernah berpisash dengannya, maka sabar menjadi kebutuahn baginya hingga akhir hayatnya.

Apa saja yang diberikan kepada seorang hamba di dunia tidak lepas dari dua hal; pertama sesuai dengan hawa nafsunyadan keinginannya. Kedua sesuatu yang bertentangan dengan hawa nafsunya dan keinginan hawa nafsunya.dia harus bersabar dengan kedua kondisi hal tersebut.

Jenis pertama yang sesuai dengan hawa nafsunya ialah kesehatan kedamaian, jabatan, kekayaan, dan semua jenis kelezatan yang diperbolehkan. Dalam menghadapi hal tersebut, tidak ada sesuatu yang sangat ia butuhkan melainkan sifat sabar dengan memperhatikan hal berikut:

Pertama
ia jangan cenderung kepadanya tidak tertipu denganya, tidak membuat arogan, pongah, dan kegembiraan tercela yang pelakunya tidak dicintai allah ta’ala.

Kedua ia jangan larut dalam usaha mendapatkannya dan berlebih lebihan dalam meraihnya, karena ia akan berubah menjadi kebalikannya barangsiapa berlebih-lebihan dalam makanan, minuman, dan berhubungan seksual, maka itu semua berubah manjadi kebalikannya kemudian diharamkan dari makanan, minuman, dan hubungan seksual.

Ketiga ia harus bersabar terhadap pelaksanaan hak Allah didalamnya dan tidak menyiayiakannya kemudian nikmat tersebut dicabut darinya.

Keempat ia harus bersabar dari mengarahkanya kepda hal-hal yang haram dan tidak menyiapkan dirinya terhadap apa saja yang diinginkan nya dari hal diatas, karena itu semua menjerumuskannya kepada hal yang haram. Jika berhati-hati dengan keterlaluan, maka menjerumuskannya ke dalam hal-hal yang makruh . Tidak ada yang mampu bersabar terhadap kenikmatan kecuali orang-orang yang jujur.

Sebagian generasi salaf berkata,Terhadap musibah, orang beriman dan orang kafir bersabar, dan tidak ada yang mampu bersabar terhadap kesehatan kecuali orang-orang yang jujur.
Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu berkata,Kami diuji dengan musibah emuian kami bersabar, dan kami diuji dengan kenikmatan kemudian kami tidak bersabar terhadapnya.

Oleh karena itu, Allah memperingatkan hamba-hamba-Nya dari fitnah kekayaan, istri, dan anak-anak. Allah Ta’ala berfirma, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kekayaan kalian, dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari ingat kepada Allah.” (Al-Munafiqun : 9)

Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri kalian dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah kalian terhadap mereka.” (At-Taghabun : 14)

Disalin dari: Rasyid Mubarok Blogs dan sumber artikel dari Media Muslim Info


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: